Makassar – Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro menggelar Haflah At-Takharruj atau Syukuran Akhir Pembelajaran Tahun Ajaran 2026 di Aula I-GIF Universitas Muhammadiyah Makassar, Kamis, 4 Juni 2026. Di tengah prosesi pelepasan alumni, pesantren ini kembali menegaskan model pendidikan yang selama dua dekade menjadi fondasi pembinaannya: pembelajaran di sekolah, pembinaan di asrama, dan pelayanan kesejahteraan santri.
Acara yang dihadiri pimpinan Muhammadiyah, pimpinan Universitas Muhammadiyah Makassar, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gowa, guru, pembina, orang tua, serta para santri itu berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, laporan pendidikan pesantren, sambutan para tamu undangan, hingga prosesi penamatan dan penyerahan penghargaan kepada santri berprestasi.
Direktur Darul Fallaah, Dr. Dahlan Lamabawa, S.Ag., M.Ag., mengatakan ketiga atmosfer pendidikan yang diterapkan di pesantren merupakan sistem yang saling menopang dalam membentuk karakter santri. Menurut dia, pendidikan pesantren tidak cukup hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga harus hadir dalam kehidupan sehari-hari santri di asrama dan didukung pelayanan yang memadai.
“Kalau sekolah mengajarkan ilmu pengetahuan, maka asrama membentuk kebiasaan hidup, kedisiplinan, dan karakter. Sementara pelayanan kesejahteraan memastikan seluruh proses pendidikan berjalan dengan baik,” kata Dahlan.
Dalam sambutannya, Dahlan juga menyampaikan bahwa tahun ini memiliki makna khusus karena Darul Fallaah memasuki usia ke-20 sejak didirikan pada 2006. Selama dua dekade, pesantren tersebut terus mengembangkan sistem pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan formal, pembinaan keagamaan, penguatan karakter, serta pengembangan keterampilan hidup.
“Setelah kami tanam imannya, setelah kami ajar ilmunya, setelah kami bimbing ibadahnya, setelah kami tuntun akhlaknya, dengan memohon rida Allah, kami kembalikan kepada bapak ibu semuanya,” kata Dahlan di hadapan orang tua santri.
Darul Fallaah berdiri di atas lahan sekitar 75 hektare milik Universitas Muhammadiyah Makassar dan saat ini mengelola tiga satuan pendidikan, yakni SMP Islam Darul Fallaah, MA Darul Fallaah, dan SMK Trenkaun. Selain pendidikan formal, pesantren juga mengembangkan berbagai program pembinaan kepemimpinan, tahfiz Al-Qur’an, kewirausahaan, serta pendidikan pertanian yang menjadi salah satu ciri khasnya.
Dalam laporan tahunannya, Dahlan menyebut keberhasilan pendidikan pesantren tidak hanya diukur dari kelulusan akademik, tetapi juga dari tumbuhnya kemandirian, kedisiplinan, kemampuan beribadah, serta kepemimpinan santri. Karena itu, pembinaan di asrama ditempatkan sebagai bagian integral dari proses pendidikan.
Menurut dia, keterlibatan santri sebagai petugas dalam berbagai kegiatan pesantren, termasuk pada Haflah At-Takharruj, merupakan bagian dari proses pembelajaran tersebut. Santri tidak hanya belajar menjadi peserta, tetapi juga belajar mengelola kegiatan, bekerja sama dalam tim, berkomunikasi di depan publik, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gowa, H. Jamaris, S.Ag., M.H., menilai Darul Fallaah memiliki lingkungan belajar yang kondusif dan terus menunjukkan perkembangan positif sebagai salah satu pesantren Muhammadiyah di Kabupaten Gowa.
Ia mendorong penguatan akses pendidikan bagi santri berprestasi, khususnya penghafal Al-Qur’an yang berasal dari keluarga kurang mampu. Menurutnya, dukungan beasiswa akan memperluas kesempatan pendidikan sekaligus memperkuat peran pesantren dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul.
“Pesantren seperti ini perlu terus diperkuat. Salah satunya melalui dukungan beasiswa bagi santri berprestasi dan penghafal Al-Qur’an yang berasal dari keluarga kurang mampu,” ujarnya.
Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. KH. Mawardi Pewangi, M.Pd.I., mengingatkan para lulusan agar menjaga nilai-nilai yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren.
Menurut dia, kehidupan setelah lulus akan menghadapkan para alumni pada tantangan yang lebih kompleks. Karena itu, bekal yang diperoleh selama berada di lingkungan pesantren harus tetap dijaga dan dikembangkan.
“Jaga iman, jaga ibadah, jaga akhlak, kembangkan ilmu, dan jangan berhenti berbuat baik,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof. KH. Arifuddin Ahmad, M.Ag., mendorong Darul Fallaah memperkuat identitasnya sebagai pesantren pertanian modern. Menurut dia, pengembangan teknologi pertanian perlu menjadi bagian dari pendidikan santri agar lahir generasi yang mampu mengelola sektor pertanian secara profesional.
Ia menilai potensi lahan yang dimiliki Darul Fallaah dapat menjadi laboratorium pendidikan yang memberi pengalaman langsung kepada santri dalam bidang pertanian dan ketahanan pangan.
“Pesantren pertanian perlu mengenalkan teknologi modern kepada santri. Kita ingin lahir alumni yang mampu menjadi pelaku pertanian masa depan,” katanya.
Selain prosesi penamatan, acara juga diisi dengan penampilan santri yang menampilkan kemampuan pidato, pembacaan hafalan Al-Qur’an, serta persembahan seni yang mendapat apresiasi dari para tamu dan orang tua. Penampilan tersebut menjadi gambaran hasil pembinaan yang berlangsung selama para santri menempuh pendidikan di pesantren.
Perwakilan orang tua santri, Nur Hawati, S.Pd.I., Gr., mengaku menyaksikan perubahan besar pada anak-anak mereka setelah menempuh pendidikan di Darul Fallaah.
“Rasanya baru kemarin kami mengantar mereka ke pondok. Hari ini kami melihat mereka tumbuh lebih dewasa, mandiri, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Suasana haru terlihat ketika para santri menerima tanda kelulusan dan memberikan penghormatan kepada orang tua mereka. Sejumlah wali santri tampak meneteskan air mata saat menyaksikan putra-putri mereka menyelesaikan pendidikan setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di lingkungan pesantren.
Melalui haflah tahun ini, Darul Fallaah tidak hanya melepas alumni, tetapi juga memperlihatkan model pendidikan yang memadukan sekolah, asrama, dan kesejahteraan santri dalam satu ekosistem pembinaan. Keterlibatan santri sebagai petugas acara, kemampuan mereka mengelola kegiatan, serta penampilan yang ditunjukkan selama prosesi berlangsung menjadi gambaran bagaimana pendidikan di pesantren tersebut tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian. Model itulah yang selama 20 tahun terakhir menjadi ciri khas pesantren laboratorium pendidikan milik Universitas Muhammadiyah Makassar tersebut.
Humas Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro
.png)