Bissoloro, 25 April 2026 — Santri Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro asal Lembata, Abdul Latif, tampil sebagai khatib dalam pelaksanaan khutbah Jumat di Masjid Al-Aqabah lingkungan pesantren.
Dalam khutbahnya, Abdul Latif mengangkat tema “Menjaga Keharmonisan Bertetangga”, yang menekankan pentingnya hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat sebagai bagian dari ajaran Islam. Ia menyampaikan bahwa menjaga hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu wujud nyata dari keimanan, sebagaimana diajarkan dalam nilai-nilai habluminannas.
Di hadapan jamaah, ia menguraikan bahwa keharmonisan bertetangga dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, tolong-menolong, menjaga lisan, serta menghindari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. Menurutnya, lingkungan yang harmonis akan melahirkan kehidupan yang tenteram dan penuh keberkahan.
“Islam mengajarkan kita untuk memuliakan tetangga, menjaga hubungan baik, dan menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitar,” ungkapnya dalam khutbah tersebut.
Penampilan Abdul Latif sebagai khatib menjadi bukti nyata proses pembinaan di Pondok Pesantren Darul Fallaah, yang tidak hanya menekankan aspek keilmuan, tetapi juga melatih santri dalam keterampilan dakwah dan kepemimpinan di ruang publik.
Wakil Direktur II, H. Samsuddin, S.Pd., menyampaikan bahwa pembinaan ini merupakan bagian dari sistem yang menjadikan Darul Fallaah sebagai laboratorium santri khatib dan dai, di mana santri diberikan ruang untuk mengasah kemampuan berbicara, menyampaikan pesan keislaman, serta membangun kepercayaan diri di hadapan jamaah.
Kiprah Abdul Latif yang berasal dari Lembata juga menjadi gambaran bahwa pesantren ini terbuka bagi santri dari berbagai daerah, serta mampu membina mereka menjadi pribadi yang siap berkontribusi di tengah masyarakat.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro terus berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan dakwah yang komunikatif, kontekstual, dan menyentuh kebutuhan umat.
Pembinaan ini sekaligus mempertegas peran pesantren sebagai pusat pembinaan santri dai yang berintegritas, serta mampu menjawab tantangan kehidupan sosial ke depan.
