Di bawah lengkung malam yang bening, bulan sabit menggantung anggun di cakrawala, ditemani gemerlap bintang yang seolah menari mengelilinginya. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, menyentuh wajah Muhammad Afifullah yang tengah duduk termenung di balkon rumahnya.
Afif, pemuda asal Desa Kajuara, adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah di daerahnya. Baginya, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi Islam, melainkan gerakan dakwah dan tajdid yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta, pada 18 November 1912. Sebuah gerakan yang membawa misi pemurnian ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Keputusan Afif menempuh pendidikan di kampus Muhammadiyah bukan tanpa alasan. Ia ingin memperdalam ilmu agama sekaligus membawa perubahan bagi keluarganya dan masyarakat desanya yang masih terikat pada praktik tahayul, bid’ah, dan khurafat—kepercayaan lama yang bertentangan dengan tauhid.
Keluarganya masih meyakini pohon-pohon besar sebagai tempat meminta berkah, sementara sebagian warga desa percaya pada dukun sebagai solusi berbagai persoalan hidup.
Pagi pun tiba. Sinar mentari menggantikan cahaya bulan. Afif bersiap menuju kampus bersama sahabat sekaligus tetangganya sejak kecil, Rizky.
Di tengah perjalanan menuju kampus, Afif membuka percakapan.
“Aku heran, Riz. Kenapa keluargaku masih percaya TBC?”
Rizky mengernyit. “TBC? Bukannya itu penyakit?”
Afif tertawa kecil. “Bukan. Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat.”
Rizky terdiam, lalu mengangguk paham.
“Keluargaku juga sama,” jawab Rizky. “Kalau ada masalah atau sakit, mereka lebih percaya ke dukun.”
Keduanya pun tersadar bahwa mereka menghadapi persoalan serupa: keluarga yang masih terjebak dalam praktik syirik, hanya dengan bentuk yang berbeda.
Sesampainya di kampus, mereka mengikuti perkuliahan seperti biasa. Dalam mata kuliah akidah, dosen mereka, Pak Radit, menjelaskan makna tauhid dengan penuh penekanan.
“Allah itu Maha Esa,” ujar beliau. “Esa berarti satu, tunggal. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”
Pak Radit kemudian membacakan Surah Al-Ikhlas dan Surah Al-Anbiya ayat 22, menjelaskan bahwa jika ada tuhan selain Allah, niscaya langit dan bumi akan binasa.
Penjelasan itu begitu membekas di hati Afif dan Rizky. Mereka sadar bahwa ilmu yang mereka pelajari tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ilmu itu harus dibawa pulang, diamalkan, dan diperjuangkan.
Sepulang kuliah, sebuah gagasan besar muncul di benak Afif.
“Bagaimana kalau kita adakan pengajian desa?” usulnya penuh semangat. “Kita undang remaja masjid, majelis taklim, dan tokoh agama.”
Rizky menyambut antusias.
“Temanya?”
“Tauhid: Bekal Dunia dan Akhirat.”
Sejak saat itu, masa libur mereka diisi dengan persiapan dakwah. Mereka berkoordinasi dengan tokoh masyarakat, menyiapkan tempat, menyusun acara, dan mengundang warga.
Hari pelaksanaan pun tiba.
Rumah Afif dipenuhi warga. Pengajian berlangsung khidmat. Materi tentang bahaya syirik, pentingnya tauhid, dan kemurnian ibadah disampaikan dengan lugas. Warga menyimak dengan serius. Bahkan orang tua Afif dan Rizky hadir, mendengarkan setiap nasihat dengan hati terbuka.
Perlahan, perubahan mulai tampak.
Warga yang sebelumnya mendatangi pohon keramat mulai meninggalkannya. Kebiasaan meminta pada dukun mulai berkurang. Kajian Islam rutin digelar setiap pekan. Remaja masjid semakin aktif. Desa yang dahulu dipenuhi praktik-praktik menyimpang perlahan berubah menjadi masyarakat yang lebih dekat dengan ajaran Islam yang murni.
Malam kembali datang.
Di balkon yang sama, Afif dan Rizky memandang langit penuh syukur.
“Kita berhasil, Riz,” ujar Afif pelan.
Rizky tersenyum bangga. “Iya. Kita bukan hanya belajar agama, tapi juga menghidupkannya.”
Angin malam kembali berembus, namun kali ini membawa ketenangan yang berbeda—ketenangan dari perjuangan yang membuahkan perubahan.
Afif dan Rizky memahami satu hal:
Ilmu yang sejati bukan sekadar dipahami, tetapi diperjuangkan demi kebaikan umat.
TAMAT
