Bissoloro, Gowa — Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungaya menggelar kegiatan Pengajian Bulanan dan Dialog Genealogi Palestina dengan tema “Membesarkan Fisik dan Mental Anak Menurut Al-Qur’an”. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri oleh masyarakat, santri, tokoh Muhammadiyah, unsur pemerintah desa, serta sejumlah tamu undangan dari berbagai kalangan.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber asal Palestina, Dr. dr. Ibrahim Abdullah, yang membagikan pengalaman hidup, perjuangan kemanusiaan, serta pandangannya mengenai pendidikan anak dalam perspektif Al-Qur’an di tengah situasi konflik dan keterbatasan yang dialami masyarakat Palestina.
Dialog dipandu oleh Gunawan Hatmin, selaku moderator, dengan penerjemah Muhammad Heri, Alumni KPI-Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar. Kehadiran penerjemah membantu jalannya diskusi sehingga materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh seluruh peserta.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah tokoh yang hadir. Kepala Desa Bissoloro, Abdul Rahim (DG Nassa), dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan pengajian dan dialog internasional seperti ini penting dalam membangun wawasan keislaman, kepedulian kemanusiaan, dan penguatan karakter generasi muda di tengah perkembangan zaman.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh H. Samsuddin selaku, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bungaya. Ia menjelaskan bahwa kegiatan pengajian bulanan merupakan bagian dari ikhtiar dakwah dan pendidikan umat yang terus dibangun bersama antara PCM Bungaya dan Pondok Pesantren Darul Fallaah.
Menurutnya, sinergi antara Muhammadiyah dan pesantren menjadi langkah strategis dalam menghadirkan ruang pembinaan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada penguatan ibadah, tetapi juga memperluas wawasan umat terhadap persoalan dunia Islam dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lamabawa, S.Ag., M.Ag., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan Pengajian Bulanan dan Dialog Genealogi Palestina merupakan bagian dari komitmen Darul Fallaah dalam membangun pendidikan pesantren yang terbuka, progresif, dan memiliki wawasan global keislaman.
Ia menjelaskan bahwa pesantren hari ini tidak cukup hanya menjadi ruang pembelajaran lokal, tetapi juga harus mampu menghadirkan pengalaman, perspektif, dan jejaring internasional kepada para santri dan masyarakat. Menurutnya, menghadirkan narasumber langsung dari Palestina menjadi langkah penting dalam memperluas cakrawala berpikir santri sekaligus memperkuat kesadaran umat terhadap kondisi dunia Islam.
“Darul Fallaah ingin terus tumbuh menjadi pesantren yang tidak hanya unggul dalam pembinaan akademik dan karakter, tetapi juga mampu menghadirkan ruang dialog internasional. Kehadiran narasumber langsung dari Palestina menjadi bukti bahwa pesantren di daerah pun mampu membangun koneksi keilmuan dan kemanusiaan yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman masyarakat Palestina memiliki nilai pendidikan yang sangat besar, khususnya dalam membangun mentalitas generasi muda Islam. Menurutnya, anak-anak Palestina hidup dalam keterbatasan, tekanan, dan ancaman perang, namun tetap memiliki semangat belajar, daya juang, dan keteguhan iman yang kuat.
“Dari Palestina kita belajar tentang keteguhan hidup, kekuatan keluarga, dan kedekatan dengan Al-Qur’an. Anak-anak kita hari ini harus belajar bersyukur, disiplin, dan memiliki mental yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman,” tambahnya.
Dalam sesi dialog, Dr. dr. Ibrahim Abdullah membagikan kisah hidupnya selama berada di Palestina. Ia mengaku bekerja sebagai dokter dengan waktu pelayanan mencapai hampir 20 jam setiap hari di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan akibat konflik berkepanjangan.
Dengan penuh haru, ia juga menceritakan pengalaman pribadi ketika anak dan istrinya syahid akibat serangan Zionis Israel. Kisah tersebut membuat suasana dialog menjadi emosional dan menyentuh perhatian peserta yang hadir.
Ia menggambarkan kondisi anak-anak Palestina yang sejak kecil hidup di tengah suara bom, rudal, dan peperangan. Di usia yang seharusnya dipenuhi kasih sayang dan kenyamanan, banyak anak Palestina justru tumbuh dalam situasi penuh tekanan dan ketidakpastian.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat Palestina mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar kehidupan, mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, hingga akses air bersih. Untuk memperoleh air, sebagian warga harus menampung air hujan atau mencari sumber air yang masih dapat digunakan.
Meski hidup dalam keterbatasan, ia menuturkan bahwa anak-anak Palestina memiliki kreativitas dan daya tahan mental yang luar biasa. Mereka mampu memanfaatkan serpihan kendaraan, besi, dan sisa material bangunan untuk dijadikan berbagai kebutuhan sederhana seperti sandal, pisau, dan peralatan lainnya.
Dalam penyampaian materinya, narasumber juga menekankan pentingnya pendidikan mental dan spiritual anak melalui nilai-nilai Al-Qur’an. Menurutnya, keteguhan iman, kesabaran, disiplin, dan kebersamaan keluarga menjadi fondasi utama masyarakat Palestina dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Selain menjadi narasumber utama dalam dialog genealogi Palestina, Dr. dr. Ibrahim Abdullah juga mengisi sejumlah agenda pembinaan di lingkungan pondok pesantren. Ba’da Isya, beliau memberikan pengajaran dasar-dasar bahasa Arab dan bahasa Inggris kepada santri. Keesokan harinya, ia turut menyampaikan kultum Subuh.
Pada kultum Subuh yang disampaikannya kepada santri dan jamaah, Dr. dr. Ibrahim Abdullah juga menjelaskan secara singkat tentang genealogi Palestina. Ia menerangkan bahwa Palestina merupakan tanah para nabi yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban Islam. Menurutnya, Masjid Al-Aqsa bukan hanya simbol perjuangan rakyat Palestina, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan umat Islam sedunia.
Ia menegaskan bahwa konflik yang terjadi di Palestina bukan sekadar persoalan wilayah, tetapi menyangkut kemanusiaan, penjajahan, dan perjuangan mempertahankan hak hidup masyarakat Palestina di tanah mereka sendiri. Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk terus menjaga solidaritas, kepedulian, dan doa bagi rakyat Palestina.
selain itu, ia juga di berikan kesempatan untuk orasi pagi dalam apel santri sebagai bentuk motivasi dan penguatan semangat generasi muda Islam.
Melalui kegiatan ini, Ponpes Darul Fallaah bersama PCM Bungaya berharap pengajian bulanan tidak hanya menjadi agenda rutin seremonial, tetapi benar-benar menjadi ruang dakwah, pembinaan umat, penguatan solidaritas kemanusiaan, serta media pendidikan karakter bagi generasi muda Islam.
