![]() |
| penulis adalah seorang santri Darul Fallaah |
Pada suatu hari ada seorang Santri Darul Fallaah yang bernama Heksa ia sekarang duduk di bangku SMA/MAS Darul Fallaah (Madrasah Aliyah Swasta) tepatnya di kelas sepuluh. Dia anak terakhir dari dua bersaudara, ia memiliki teman yang bernama Arga, Heksa terkenal dengan perilakunya yang malas, tetapi orang yang sudah mengenal baik Heksa seperti Arga dan Ustadz Andi tidak akan beranggapan seperti itu. Hal ini terjadi karena Heksa tidak suka Mondok karena peraturan yang banyak, kegiatan pondok yang disiplin salah satunya kegiatan "Apel Pagi" yang membuat Heksa kesal adalah Heksa sering terlambat jika pelaksanaan Apel Pagi itu karena Heksa harus mengantri kamar mandi yang sangat lama sebab Heksa tidak ingin mandi lebih awal, akibat inilah Heksa sering dihukum oleh pembinanya, Heksa juga terpaksa mondok karena kemauan orang tuanya, bukan karena kemauan dirinya sendiri.
Setiap hari Heksa sering bolos sekolah, lambat mengikuti apel pagi atau bahkan tidak sama sekali. Tak sedikit juga laporan dari guru tentangnya, banyak guru kelas yang mengeluh dan tidak mampu dengan perilaku Heksa yang suka bolos dan pemalas. Meskipun demikian jika Heksa masuk kelas, ia seolah-olah sudah paham dengan materi itu, akan tetapi rasa malas dan tidak nyamannya lah yang membuat ia seperti itu.
Keesokan harinya selepas kegiatan halaqoh mengaji subuh, Heksa beserta teman-temannya yang lain termasuk Arga bergegas untuk membersihkan di sekitaran MAS (Madrasah Aliyah Swasta). Setelah semuanya usai, Heksa dan Arga bergegas ke Dapur untuk mengambil Sarapan dan makan di sana. "Heksa, Saya duluan yah soalnya mau ngantri kamar mandi biar nggak kena hukuman, hehehe" ucap Arga sambil berjalan meninggalkan Heksa yang masih terduduk sambil mengangkat piring yang berisi sarapannya. "Yaa, kamu duluan saja, nanti saya nyusul" jawab Heksa dengan mulut yang penuh dengan nasi.
Seusai makan, Heksa melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.35, ia tidak punya banyak waktu untuk mandi. Heksa pun bergegas ke kamar lalu menyiapkan alat mandinya dan segera ke kamar mandi, ternyata tak ada satu pun kamar mandi yang kosong, tetapi hanya ada satu kamar mandi yang antriannya pendek, Heksa pun berlari kesana untuk mengantri. Selang beberapa waktu akhirnya giliran Heksa untuk mandi, tidak lama Heksa masuk kamar mandi, sudah ada pengurus OSIP (Organisasi Santri Intra Pesantren) bagian keamanan menyuruh santri untuk kelapangan karena Apel Pagi segera dimulai. "Heksa jangan lama mandinya, ini sudah ada pengurus yang mengarahkan, saya duluan kelapangan yahh". ucap Arga yang memberi tahu Heksa. "Yaa, kamu duluan saja, nanti saya nyusul" jawab Heksa yang masih di kamar mandi. "Moga-moga bisa nyampai kelapangan sebelum waktu laporan ketua kamar. " batin Heksa.
Setelah ia mandi, Heksa berlari menuju ke kamar untuk memakai seragam sekolahnya, dan langsung berlari menuju lapangan bersama temannya yang ikut juga terlambat.
Lagi dan lagi, Heksa terlambat, padahal ia sudah berusaha untuk tepat waktu, Apel Pagi hampir selesai pada saat Heksa sudah tiba dilapangan. Seperti biasanya Ustadz Usman mengumpulkan santri yang terlambat atau bahkan yang tidak mengikuti Apel Pagi. Ustadz Usman adalah pembina yang sangat tegas dan disiplin. "Siapa santri yang terlambat ikut Apel Pagi?". tanya ustadz Usman. Hanya sedikit santri yang angkat tangan karena terlambat mengikuti Apel Pagi itu, termasuk Heksa. "Jadi silahkan untuk santri yang terlambat akan diberi sanksi Jalan jongkok keliling lapangan ini selama lima putaran dan dilakukan sekarang juga" ucap dengan tegas ustadz Usman. Santri yang terlambat pun mengikuti arahan tersebut, termasuk Heksa.
Setelah Heksa menjalani sanksi tersebut, ia pun menemui Arga di kelas. "Arga, saya tidak masuk kelas dulu yah, mau istirahat soalnya lagi capek nih, mau tidur sekalian." ucap Heksa. "Ihh, kamu kan harus sekolah, ngapain sihh mau bolos kelas terus? Nggak capek apa dihukum terus? Mending hari ini kamu masuk kelas dulu." jawab Arga dengan penuh keyakinan untuk membujuk Heksa. "Nggak dulu dehh, lagi malas nih masuk kelasnya, nanti saya dengar lagi ocehan dari guru-guru tentang saya, mungkin besok-besok aja saya masuk kelasnya" ucap Heksa sembari meninggalkan Arga di kelas menuju kamarnya.
Seperti biasanya Heksa tertidur pulas di atas kasurnya seolah-olah tak ada beban untuk bersekolah. Selang beberapa waktu, ustadz Usman patroli ke setiap kamar, tidak biasanya ustadz Usman berpatroli hanya hanya saja banyak laporan dari guru-guru soal santri yang tidak masuk kelas. Ustadz Usman membangunkan santri lain dan Heksa yang selama ini tidak ketahuan tidak masuk kelas, akhirnya ketahuan juga tidak masuk kelasnya, melihat itu ustadz Usman langsung memanggil Heksa dan para santri yang lain untuk menghadap di Kantor Pusat. Di sana mereka diberi nasehat dan tak lupa dengan sanksinya, kemudian ustadz Usman menyuruh para santri yang bolos kelas untuk segera masuk, kecuali Heksa yang disuruh untuk tinggal.
Mendengar hal itu Heksa pun kebingungan, kenapa hanya dia yang disuruh untuk tinggal? Sementara temannya yang lain disuruh untuk masuk kelas. "Heksa, ustadz kira selama ini kamu orang yang rajin, tapi kenapa akhir semester ini banyak laporan dari guru-guru soal kamu sering malas masuk kelas dan terlambat ikut Apel pagi?." tanya Ustadz Usman dengan nada yang tegas. Mendengar hal itu Heksa hanya tunduk dan diam, ia tidak ingin menjawab pertanyaan Ustadz Usman, dan kalaupun ia menjawabnya Ustadz Usman tidak akan mengerti apa yang dirasakan oleh Heksa. "Jawab Heksa! Kenapa kamu seperti itu, yah sudah jika kamu tidak menjawabnya, ustadz beri kamu sanksi yang berat kali ini, tidak ada toleransi lagi untuk kamu dan sanksinya adalah kamu harus bersihkan kamar mandi santriwan plus cuci piring selama sepekan! Paham!" ucap ustadz Usman dengan nada yang tinggi. Mendengar hal itu Heksa hanya mengangguk pelan dan pasrah dengan saksi tersebut.
Setelah itu Heksa kembali ke kamarnya untuk mengambil piring juga menemui Arga dan mengambil makan siang. "Kamu tadi dipanggil sama ustadz Usman ya?" tanya Arga. "Hmm, iya saya dipanggil tadi karena ketahuan tidak masuk kelas, dan ustadz memberiku sanksi yang banyak!" jawab Heksa. "Emangnya sanksi apa?" tanya Arga. "Sanksi nya itu membersihkan kamar mandi Santriwan dan mencuci piring di dapur selama sepekan, SENDIRIAN!!" ujar Heksa dengan ekspresi yang putus asa. "Sabar ya akhi, nanti saya bantu sebisa saya jika sudah mulai sanksinya berjalan" jawab Arga dengan wajah tersenyum untuk membangkitkan kembali semangat Heksa. "Thank's ya bro, kamu memang selalu ada untuk saya dan mau membantu saya selalu" ucap Heksa dengan wajah yang kembali bersemangat.
Sepekan pun berlalu, Heksa telah menyelesaikan hukuman yang diberikan ustadz Usman, dibantu juga oleh teman baiknya yaitu Arga. "Thank's ya bro, sudah membantu menyelesaikan hukuman saya, you so very kind" ucap Heksa sambil merangkul pundak Arga dan berjalan bersama. "Yess Afwan Akhi." jawab Arga dengan wajah bahagia. "Gimana kalau kita ke kantin, kali ini saya yang traktir dehh sebagai bentuk terima kasih saya ke kamu". Tawar Heksa. "Hmm iya dehh, saya juga jarang-jarang nih ke kantin bareng kamu, soalnya kamu sibuk nyelesain sanksi, makanya jangan terus-terusan melanggar ya akhi." ejek Arga sambil ngetawain Heksa. "Iya dehh, diusahain biar nggak gitu lagi." ucap Heksa dengan muka jutek.
Beberapa hari berlalu, kelakuan Heksa tak kunjung berubah, setiap hari tidak masuk kelas dan sering kali terlambat untuk Apel pagi.
Sampai pada siang hari dengan suasana yang sejuk di bawah pohon mahoni, Heksa terduduk sambil memikirkan perilakunya yang setiap hari tak kunjung berubah, ia pikir bahwa perilakunya selama ini salah dan banyak menyusahkan orang lain termasuk para guru dan pembina juga Arga. "Kenapa saya begitu yah? Padahal kan cuma Mondok disini, disini juga nggak seburuk ketimbang sekolah di luar, Arga juga ada di sini yang selalu membantu, tapi akibat guru nih saya jadi malas masuk belajar" batin si Heksa. Disisi lain Ustadz Andi melihat Heksa yang masih di bawah pohon, dan ia berniat untuk menemuinya di sana. Ustadz Andi dikenal oleh para santri yang disiplin, tutur kata yang baik, ia juga ustadz yang sangat dekat dengan Heksa dan tak sedikit santri yang sangat patuh terhadapnya karena ia juga sering memberikan motivasi kehidupan dan menceritakan juga pelajaran hidup yang didapatkan nya.
Ustadz Andi menepuk pundak Heksa, dan Heksa yang tak tahu bahwa Ustadz Andi ada di belakangnya pun terkejut. "Heksa lagi apa di sini?" tanya ustadz Andi. "Heksa lagi ngelamun ustadz" jawab Heksa. "Oohh, kirain lagi apa, jangan kebanyakan ngelamun, nanti kesambet sesuatu lohh" ucap Ustadz Andi. "Hehe, tidak kok ustadz. Ustadz habis darimana?" tanya Heksa dengan rasa kebingungan??. "Ustadz habis keliling pondok yah sambil liatin juga tanaman GJTS (Gerakan Jamaah Tani Santri) para santri, eh kebetulan kamu ada di sini, ustadz boleh bicara dengan Heksa?" tanya ustadz sambil ikut duduk di dekat Heksa. "Ohh, iya ustadz silahkan" ucap Heksa. "Sebenarnya Heksa ini anak yang baik, tapi kenapa sering tidak masuk kelas, terlambat ikut apel pagi dan tidak mau mendengarkan gurunya?" tanya ustadz dengan rasa penasarannya.
"Hmm, Saya juga tidak tahu Ustadz kenapa saya seperti ini dan kenapa saya sering bolos, padahal kan orang tua saya hanya ingin saya itu Mondok, tapi itu adalah keterpaksaan yang harus saya terima. Saya juga tidak mau mendengarkan guru-guru yang lain karena ia sering ngatain saya sebagai murid yang sering bolos dan paling malas, tapi hanya sebagian yang ngatain saya seperti itu ustadz. Sebab itulah saya jarang masuk kelas, andaikan saya tidak punya teman seperti Arga saya tidak akan bertahan mondok ustadz." jelas Heksa dengan panjang lebar. "Ohh gitu ya, sekarang ustadz paham kenapa Heksa seperti itu. Heksa kan orangnya kuat, pintar, dan baik. Heksa juga beruntung karena punya teman sebaik Arga, jadi jangan terlalu dengarkan ucapan yang membuat Heksa rapuh atau tumbang, jangan dipikirin persoalan itu, buktikan bahwa Heksa bukan orang yang seperti itu, buktikan juga sama mereka bahwa Heksa pasti bisa berubah dan perubahan itu dimulai dari diri Heksa sendiri. Sebagaimana Allah Swt. Telah menjelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi:
لاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِم
Yang artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11)
dan Heksa harus berjanji sama diri Heksa untuk tidak melakukan hal yang sama lagi." ucap ustadz Andi sambil memberi motivasi untuk Heksa. "Hmm iya yah ustadz, kalau dipikirin terus bikin sakit kepala, Saya akan buktikan bahwa omongan mereka terhadap Saya tidak selamanya benar, dan Saya juga berjanji untuk berubah ke versi yang terbaik." ucap Heksa dengan semangat dan beranjak dari tempat duduknya. "Gitu dong anak jagoan, semangat yah Heksa." ucap ustadz Andi sambil ikut juga beranjak dari tempat duduknya. "Syukron Jazakumullah Khair Ustadz, atas motivasi dan dorongannya untuk Heksa" sambil memeluk ustadz Andi. "Iya Afwan Heksa" ucap ustadz Andi sambil mengusap kepala Heksa.
Hari demi hari berlalu, Heksa yang selama ini sering bolos kelas, terlambat ikut Apel pagi, kini menjadi Heksa yang sangat rajin, ia tidak lagi bolos di kelas, ataupun terlambat untuk apel pagi, bahkan ia yang paling awal datang ke lapangan bersama Arga sebelum semuanya datang, ia juga salah satu santri yang pintar dan berprestasi. Hal ini menunjukkan bahwa Heksa mampu melakukan perubahan terhadap dirinya, dan menunjukkan perkataan yang selama ini diterimanya itu tidak selamanya benar. Arga dan ustadz Andi pun merasa bangga terhadap perubahan Heksa yang makin hari kian membaik.
