
oleh: Uly Eka Saputri (Pembina Asrama Putri Ponpes Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro)
Menjadi seorang hamba yang menghirup udara di bumi ini menuntut sebuah kebijaksanaan dalam memahami posisi: bahwa kita adalah ciptaan di hadapan Sang Pencipta, Allah SWT. Keberadaan kita di dunia bukanlah sebuah kebetulan, melainkan perwujudan dari sebuah amanah besar. Kesadaran ini berangkat dari pemahaman bahwa ada tanggung jawab yang melekat pada diri sejak janji ditiupkan, sebuah konsekuensi atas eksistensi kita sebagai manusia.
Sejatinya, setiap individu telah ditetapkan-Nya untuk menjadi pemimpin. Sebagaimana firman-Nya mengenai kekhalifahan, amanah kepemimpinan ini bermula dari unit yang paling kecil namun paling sulit, yaitu memimpin diri sendiri. Akan menjadi sebuah ironi jika kita berambisi mengatur tatanan di luar sana, sementara kondisi internal diri masih dalam keadaan kacau dan tidak terarah. Menata diri adalah fondasi sebelum menata sesama.
Meski demikian, refleksi ini tidak bermaksud mengatakan bahwa seseorang harus mencapai kesempurnaan mutlak sebelum memberi manfaat bagi orang lain. Para bijak berpesan bahwa menunggu sempurna hanya akan berujung pada kebuntuan, sebab kesempurnaan bukanlah milik manusia. Setiap kita diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi. Fokus utama kita bukanlah menjadi tanpa celah, melainkan konsistensi dalam proses bertumbuh.
Oleh karena itu, rasa rendah diri atau insecurity yang berlebihan seharusnya tidak mendapat tempat dalam jiwa. Menganggap diri payah hanya akan menghambat amanah yang sedang diemban. Kita perlu menyadari dengan sepenuhnya bahwa kelak, setiap amanah ini akan dimintai pertanggungjawabannya. Amanah dari-Nya memang berat, namun ia diberikan sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya.
Sebagai penutup, menikmati setiap proses dalam fragmen kehidupan adalah bentuk syukur yang paling nyata. Amanah ini tidak semestinya dipandang sebagai beban yang menghimpit, meski terkadang pundak terasa lelah dan berat. Dengan menanamkan niat yang tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah, semoga setiap peluh yang menetes dalam menjalankan tanggung jawab ini bernilai ibadah dan berujung pada rida-Nya.