Oleh: Iza, santri kelas XII MA.
Haloo, ini aku Iza. Aku lahir di Bungasunggu, Kec. Biringbulu, Kab. Gowa pada tanggal 01 April 2009. Saat ini aku adalah santri di Pesantren Darul Fallaah dan sudah duduk di kelas XII MA.
Saat ini aku ingin memurojaah hafalanku. Ada sebuah foto yang terselip di dalam Al-Qur’an kecilku—foto kami berdelapan. Kami bukan berasal dari kamar yang sama, tetapi kami tetap bersahabat baik. Setiap kali melihat foto itu, pikiranku seakan berputar pada kenangan manis, pahit, hingga horor kehidupan santri di masa kelas X dan XI, bertahun-tahun silam.
Aku berjalan menuju asrama sambil membawa barang-barangku. Setelah semuanya tersimpan rapi, aku mengantar keluargaku sampai ke gerbang pondok. Jujur, rasanya aku sangat ingin ikut pulang bersama mereka. Tapi apa boleh buat, aku sudah di pesantren dan akan menuntut ilmu di tempat ini selama tiga tahun—atau seperti kata orang, inilah “penjara suci”.
Segalanya serba diatur: pakaian, gaya bahasa, adab, dan banyak hal lainnya.
Aku tidur bersama sahabatku, Ruby. Seperti santri baru pada umumnya, kami sulit tidur karena masih dalam proses adaptasi. Kami rindu rumah, kampung halaman, orang tua, dan—ya—HP. Malam itu kami menangis hingga akhirnya tertidur.
Dengan malas, aku pun bangun. Saat hampir selesai berwudhu, iqamah sudah berkumandang. Aku pun berlari terburu-buru—bahkan mukenaku kupakai tanpa peduli benar atau tidak. Dan benar saja, aku tetap masbuk.
Setelah sholat Subuh, ternyata kami tidak boleh kembali ke asrama. Kami harus mengikuti tes bacaan Al-Qur’an. Aku mendapat giliran pertama.
“Silakan maju,” kata ustadzah.
Dengan gugup aku maju. Setelah ditanya alasan masbuk dan menjawab “ketiduran”, aku diminta membaca. Aku memilih surah Al-Falaq. Namun baru sampai ayat ketiga, aku dihentikan.
“Sepertinya kamu hafal, tapi bacaanmu belum baik. Kamu turun ke iqra.”
Jujur, itu sangat memalukan. Aku dan Ruby sama-sama turun ke iqra.
Hari-hari berlalu. Aku mulai mengenal banyak teman: Cira, Bella, Maya, Aurora, Luna, dan Hazel. Kami menjadi delapan sahabat yang selalu bersama.
Namun, suatu hari, ada tiga orang yang memprovokasi aku dengan berkata bahwa Ruby memanfaatkanku dan teman-teman lain membicarakanku di belakang. Tanpa berpikir panjang, aku langsung percaya. Aku menjauh dari sahabat-sahabatku dan bahkan ikut memfitnah mereka.
Hingga suatu hari, Hazel menegurku. Dari situlah aku sadar bahwa aku telah salah. Aku menangis dan menyesali semuanya. Dengan keberanian, aku meminta maaf kepada mereka.
“Maafkan aku... aku salah.”
Sejak saat itu, persahabatan kami kembali membaik.
Kami kembali tertawa bersama, makan bersama, bahkan berbagi satu piring. Kami belajar, bercanda, hingga berbagi cerita—termasuk cerita horor yang membuat kami ketakutan bersama.
Pernah suatu malam, kami mendengar suara aneh di belakang asrama. Dengan rasa takut bercampur penasaran, kami mengintip bersama. Betapa terkejutnya kami saat melihat sesuatu yang menyeramkan. Kami langsung berlari dan bersembunyi di balik selimut.
Hari-hari di pondok terus berjalan. Ada juga masa ketika aku hampir pindah dari pesantren. Namun sahabat-sahabatku bahkan sampai membujuk orang tuaku agar aku tetap tinggal.
“Tanpa Iza, kami tidak lengkap,” kata mereka.
Dan akhirnya, orang tuaku memutuskan aku tetap di pondok.
Aku sangat terharu.
Kini, aku sudah hampir lulus. Rasanya tidak sabar, tapi juga sedih. Aku akan merindukan semua momen ini: kajian, hafalan, hukuman, tawa, tangis, dan kebersamaan.
Di sinilah aku belajar mandiri, bertahan, dan memahami arti kebahagiaan yang sesungguhnya—bukan dari kemewahan, tetapi dari kebersamaan.
Inilah pengalamanku selama dua tahun di pondok pesantren, penuh suka, duka, dan sedikit kisah horor—hehe.
SEMANGAT ANAK PONDOK! ✨
